Senin, 28 Mei 2018

Resensi "Bintang"


Pencarian Pasak Bumi

Judul Buku             : Bintang
Jenis buku             : Novel / fiksi
Pengarang              : Tere Liye
Penerbit                : PT Gramedia Pustaka Utama
Genre                    : Fiksi
Tahun Terbit         : 2017
Jumlah Halaman     : 392 halaman
ISBN                     : 9786020351179




Bintang merupakan novel keempat serial Bumi karangan Tere Liye. Tere Liye merupakan nama pena penulis novel Indonesia. Tere Liye lahir di Lahat, Indonesia, 21 Mei 1979 dengan nama Darwis. Beberapa karya Tere Liye yang diangkat ke layar lebar yaitu Hafalan Shalat Delisa, dan Moga Bunda Disayang Allah. Meski berhasil dalam dunia literasi Indonesia, kegiatan menilis hanya sekedar hobi sehari-hari karena ia masih bekerja di kantor sebagai akuntan.
 Dalam novel ini dan novel-novel serial Bumi sebelumnya, diceritakan bahwa Klan Bintang merupakan klan yang paling menakjubkan dari klan yang lain. Letak Klan Bintang jauh serta misterius membuat klan ini tidak ada yang membahas atau tercatat dalam buku-buku klan lain.
Cerita dalam novel Bintang dimulai dari sekembalinya Raib, Seli, dan Ali dari Klan Bintang. Dari petualangan sebelumnya, mereka mendapat informasi bahwa Dewan Kota Zaramaraz berusaha menghancurkan klan di permukaan dengan cara meruntuhkan pasak bumi yang telah dijaga selama ribuan tahun. Dengan segera mereka melaporkannya kepada Av, Miss Selena, dan Ketua Konsil Klan Matahari yang baru.
Mendengar laporan dari Raib, Seli, dan Ali, para petinggi tiga klan permukaan memutuskan untuk mengirim rombongan kecil ke Klan Bintang untuk mencari pasak bumi yang dimaksud Dewan Kota Zaramaraz. Rombongan tersebut terdiri dari Raib, Seli, dan Ali serta sepuluh petarung terbaik dari Klan Bulan dan Matahari.
Ada banyak rintangan dalam perjalanan mereka, yang membuat mereka menemukan teman-teman baru dan berjumpa teman lama. Saat di Ruang Padang Sampah, pesawat kapsul ILY versi 3.0 yang ditumpangi Raib, Seli. Dan Ali diperbaiki agar menjadi pesawat yang lebih tangguh. Lalu ditangan Meer, teman lama mereka, pesawat tersebut diberi tameng transparan yang lebih kuat untuk mengimbangi kekuatan Robot Klan Bintang.
Tugas Raib serta pasukan lain dalam menemukan pasak yang dimaksud ternyata membuat perjalanan ini berbeda dengan perjalanan ke Klan Bintang sebelumnya yang diceritakan dalam novel Matahari. Ruangan-ruangan lain dalam klan tersebut menjadi lebih tereksplor dan membuat ceritanya tidak membosankan. Bukan hanya keunikan dari setiap ruangan, tapi juga hubungan masyarakat ruangan tersebut dengan Dewan Kota Zaramaraz. Dari situ dapat dilihat bahwa Klan Bintang dengan kemajuan teknologinya yang amat canggih, ternyata juga memiliki kekurangan.
“Tapi itulah masalah besar klan ini. Semua orang memutuskan tidak peduli, mengurus masalah masing-masing, dan berharap hidup bahagia. Semua orang membiarkan kejahatan merajalela, membiarkan sekelompok orang mengenakan topeng seolah baik, pahlawan, padahal sangat buruk." (hal.275)
Pada akhirnya, Raib, Seli, dan Ali, serta pasukan Klan Bulan dan Matahari berhasil menemukan pasak yang dimaksud dan menggagalkan rencana Dewan Kota Zaramaraz. Namun, mereka juga harus menyaksikan bahwa merekalah yang melepaskan “musuh besar” yang sebenarnya. 
Novel ini dapat dikatakan berhubungan dengan novel sebelumnya yaitu ‘Matahari’. Berbeda dengan novel ‘Bumi’ dan ‘Bulan’ yang seperti berdiri sendiri. Meskipun cerita lebih merujuk pada hal-hal khayalan, namun banyak pesan moral yang disampaikan pengarang kepada pembaca. Kita juga dapat mengetahui dan membayangkan teknologi canggih yang dijelaskan oleh pengarang.
Dalam novel ini, pengarang berhasil membuat pembaca menebak-nebak cerita apa yang akan terjadi selanjutnya. Gaya bahasa yang digunakan pengarang yang ringan membuat buku ini layak dibaca untuk semua kalangan
Dalam novel ini terdapat istilah yang diubah, tidak sesuai dengan novel sebelumnya. Terdapat banyak kesamaan dengan novel sebelumnya, seperti menjelajah lorong-lorong kuno, bertemu hewan-hewan raksasa dan sebagainya. Tetapi dari kesamaan tersebut terdapat hal-hal yang baru juga. Jika dibandingkan novel sebelumnya masih kalah asyik, akan tetapi masih dapat dinikmati.
Novel ini cocok dibaca oleh semua umur terutama anak-anak sampai remaja. Jika ingin membaca novel ini, sebaiknya membaca novel sebelumnya, agar mengerti jalan ceritanya.
“Jika kita mengkhawatirkan setiap langkah yang dibuat, kita akhirnya tidak akan pernah berani melangkah.” (hal. 191)
“Semakin besar kekuasaan seseorang, maka dia cenderung semakin rakus, menginginkan kekuasaan yang lebih besar lagi.” 














Biodata Penulis Resensi
Nama lengkap      : Syafiq Anthoni Syarbin
Nama panggilan  : Syafiq
Tempat lahir          : Sidoarjo
Tanggal lahir       : 30 April 2001

Asal Sekolah         : SMAN 1 Kepanjen, Malang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar